Oleh : Nur Sanda R, S.T.

Dunia pendidikan vokasi (SMK) hari ini dituntut untuk bergerak seirama dengan laju cepat dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Salah satu jembatan krusial untuk menyelaraskan kedua dunia ini adalah program Praktik Kerja Lapangan (PKL). Keberhasilan program ini sangat bergantung pada bagaimana sekolah mengelola keselarasan tersebut agar kompetensi yang didapat murid di lapangan relevan dengan perkembangan industri terkini (Wardiman, 2019).

Namun, sebuah pemandangan klasik masih sering terjadi: setelah melepas murid ke industri, sekolah terkadang seolah “lepas tangan” dan baru kembali aktif saat penjemputan. Padahal, PKL bukanlah sekadar masa jeda dari rutinitas kelas, melainkan sebuah laboratorium nyata tempat mental dan kompetensi murid diuji. Di sinilah pentingnya tata kelola dan esensi monitoring (pemantauan) berkala memegang peranan yang mutlak untuk memastikan kualitas pengalaman kerja murid (Sukardi & Sudjimat, 2022).

Bagi murid, kehadiran guru pembimbing memberikan dampak psikologis dan profesional yang masif. Memasuki ekosistem kerja baru yang dinamis—seperti anjungan kapal, laboratorium navigasi, atau manajemen logistik—sering kali memicu gegar budaya (culture shock) bagi remaja belia. Monitoring yang efektif berfungsi sebagai jaring pengaman untuk memastikan tugas mereka di industri benar-benar selaras dengan Capaian Pembelajaran (CP) Kurikulum Merdeka.

Namun, mari kita bersikap realistis. Di tengah padatnya beban mengajar di sekolah dan terbatasnya alokasi waktu serta anggaran untuk kunjungan langsung (on-site), guru pembimbing sering kali dihadapkan pada dilema fisik. Mengunjungi belasan atau puluhan mitra industri yang lokasinya tersebar tentu mustahil dilakukan setiap minggu. Jika sekolah hanya mengandalkan kunjungan fisik, maka celah “lost monitoring” akan sangat lebar, dan potensi masalah yang dihadapi murid di lapangan terlambat dimitigasi.

Keterbatasan waktu dan jarak kini bukan lagi alasan untuk abai. Solusinya terletak pada transformasi pola pemantauan hibrida (hybrid monitoring). Pemanfaatan teknologi informasi dan platform komunikasi digital dalam ekosistem pendidikan terbukti mampu memangkas birokrasi serta menembus batas ruang dan waktu (Rusman, 2023). Langkah ini diwujudkan dengan memanfaatkan monitoring secara daring (online) melalui platform media sosial yang akrab dengan keseharian murid.

Melalui pembuatan grup koordinasi daring, video call berkala, hingga pemanfaatan platform visual seperti Instagram atau TikTok untuk laporan mingguan kreatif (misalnya berupa video pendek bertema “A Day in My PKL”), guru pembimbing dapat memantau perkembangan murid secara real-time. Lewat media sosial, guru bisa langsung mengonsultasikan kendala komunikasi atau adaptasi budaya kerja murid dengan instruktur industri tanpa harus menunggu jadwal kunjungan fisik yang terbatas.

Di sisi lain, bagi institusi sekolah, kombinasi monitoring fisik yang terjadwal dan pemantauan daring harian adalah gerbang emas untuk menjaga kualitas link and match (Wardiman, 2019). Catatan digital dan umpan balik cepat dari para instruktur industri menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga. Sekolah dapat langsung memetakan apakah materi pelajaran di kelas masih relevan dengan kebutuhan riil industri mutakhir, atau justru sudah perlu segera disesuaikan.

Pada akhirnya, menjaga kualitas PKL melalui manajemen monitoring yang aktif, komunikatif, dan adaptif terhadap teknologi adalah investasi jangka panjang bagi reputasi sekolah. Ketika sinergi segitiga antara murid, guru pembimbing, dan mentor industri berjalan selaras baik lewat jabat tangan langsung di lapangan maupun lewat interaksi layar gawai-PKL tidak lagi sekadar menjadi formalitas pengisian lembar portofolio. Ia bertransformasi menjadi inkubator nyata yang melahirkan lulusan siap kerja, kompeten, dan berkarakter matang. Pada akhirnya, menjaga kualitas PKL melalui manajemen monitoring yang aktif, komunikatif, dan adaptif terhadap teknologi adalah investasi jangka panjang bagi reputasi sekolah (Sukardi & Sudjimat, 2022). Ketika sinergi segitiga antara murid, guru pembimbing, dan mentor industri berjalan selaras—baik lewat jabat tangan langsung di lapangan maupun lewat interaksi layar gawai—PKL tidak lagi sekadar menjadi formalitas pengisian lembar portofolio. Melalui penguatan model hibrida ini, program PKL bertransformasi menjadi inkubator nyata yang melahirkan lulusan siap kerja, kompeten, dan berkarakter matang (Rusman, 2023).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *